04 oktober 2011
14.30
Mondi's Cafe
Rasti terduduk di kursi meja kafe paling pojok, dengan kepala terus menunduk. Bima yang duduk di hadapannya hanya diam dan terus berusaha tenang melihat keanehan tingkah kekasihnya itu.
"Ras.." Bima mencoba menegur. matanya terus memandang Rasti. "Kamu yang ngajak ketemuan, tapi malah kamu yang--"
"Kita putus!"
Bruuk. Seandainya Bima punya riwayat penyakit jantung, mungkin sekarang dia sudah ambruk tak berdaya karena penyakitnya kumat. Bima diam. tak berkomentar. matanya hanya tetap menatap Rasti yang masih tertunduk, walau lebih tajam. tajam dengan sedikit berkaca.
Rasti tetap menunduk. walau kata-katanya sudah dia lontarkan pada Bima. dia tak bisa menatap Bima, dia takut melihat mata Bima, dia takut melihat raut kesedihan milik cowok yang sangat disayanginya, takut kalau ia sampai menarik kata-katanya karena melihat mata Bima yang tajam dengan penuh sayang padanya.
"aku mau hubungan kita berakhir sampai disini, dan aku harap kamu tidak mencariku apalagi menemuiku.." Rasti tertegun. tega sekali dirinya berkata seperti itu di depan orang yang sangat menyayanginya, dan sangat dia sayangi. Rasti memperbaiki nafasnya. berusaha mengaturnya sebaik mungkin, Bima tidak boleh tahu, kalo saat ini dirinya juga sesak tak berdaya. "aku serius!! kita selesai sampai disini.." Rasti kembali menarik nafas. Rasti berdiri dari duduknya. dia harus pergi sekarang, sebelum air matanya benar-benar mengalir, dan Bima tidak boleh lihat itu, dia harus tetap terlihat tegar, agar Bima akan benar-benar melupakannya, membencinya kalau perlu. "selamat tinggal, Bi.."
Bima hanya diam. matanya masih menatap tajam ke arah tempat duduk Rasti, dia tetap dia, walau Rasti saat ini benar-benar sudah pergi dari hadapannya. melihat Rasti berbalik kepadanya pun, dia tak lihat. Bima masih shock, kata-kata tadi itu serius, Rasti tak bercanda seperti yang sering dilakukannya di hari ulang tahunnya yang sekedar mengerjainya..
sedikitpun waktu tidak kamu kasi ke aku, Ras, untuk bertanya, mengapa.. tiba-tiba??
-----
to be continued
Sabtu, 29 Oktober 2011
"Seandainya aku ikut kamu waktu itu, mungkin sekarang kita sudah menikah, bahkan punya anak.."
"Jodoh sudah ada di tangan Tuhan. Kalau kita tidak bersatu, itu artinya kita belum jodoh.."
"belum jodoh?!! kurasa kita memang benar-benar tidak berjodoh!!"
"kita masih punya harapan bersama.."
"masih?! hei.. kamu kesini bersama calon istrimu dan sebentar lagi kalian akan menikah, menjadi sepasang suami istri sampai mati, dan sekarang kamu bilang ke aku, kalo kita masih punya harapan bersama?! bulshit!! kamu mau kasi harapan aku sampai kapan? sampai dia meninggal atau kalian cerai?? atau kamu ingin mendua??!! brengsek lo!!"
"kita masih punya surga.. kita masih punya harapan untuk bersama disana!!"
Tersenyum. "kata-katamu menyenangkan hatiku tapi sekaligus menyakiti hati calon istrimu.. aku juga perempuan.. hati aku dengan dia gak jauh beda.. hati perempuan mana yang tidak sakit mendengarkan kata-katamu yang seperti tidak mengharapkannya.."
to be continued
"Jodoh sudah ada di tangan Tuhan. Kalau kita tidak bersatu, itu artinya kita belum jodoh.."
"belum jodoh?!! kurasa kita memang benar-benar tidak berjodoh!!"
"kita masih punya harapan bersama.."
"masih?! hei.. kamu kesini bersama calon istrimu dan sebentar lagi kalian akan menikah, menjadi sepasang suami istri sampai mati, dan sekarang kamu bilang ke aku, kalo kita masih punya harapan bersama?! bulshit!! kamu mau kasi harapan aku sampai kapan? sampai dia meninggal atau kalian cerai?? atau kamu ingin mendua??!! brengsek lo!!"
"kita masih punya surga.. kita masih punya harapan untuk bersama disana!!"
Tersenyum. "kata-katamu menyenangkan hatiku tapi sekaligus menyakiti hati calon istrimu.. aku juga perempuan.. hati aku dengan dia gak jauh beda.. hati perempuan mana yang tidak sakit mendengarkan kata-katamu yang seperti tidak mengharapkannya.."
to be continued
Langganan:
Postingan (Atom)