Rasti terdiam. diam dengan air matanya yang trus mngalir. dadanya sesak. sakit. rasa benci pada orang tuanya sersa memuncak dlam htinya.
"gue benci papa.. gue benci.." teriaknya dlam kmarnya, tak seorng pun dsna.. hanya drinya yg trus trlarut dlam ksedihan.
tiba-tiba pntu kmarnya terbuka. tampak mamanya berdiri d ambang pintu.
"Ras.. " panggil mamanya dengan nada yg lembut. penuh kasih dan tampak sngat tak tega mlihat anknya sperti tak brnywa.
Rasti berbalik. matanya yg sdh tampak sayu krna menangis, mnatap mamanya yg tngah brjalan k arahnya.
"sabar yah syang.. mama jg gak tau hrus bgaimna mnghadapi papamu yg tetap kras utk pndah k bali.. sudah! kmu breskan brangmu, sbntar lg kta brangkat.. nnti ktinggalan psawat, kmu tw sndiri papamu klo smpai mrah.. " mama brusaha mnghibur, mnepuk-nepuk bhu rasti, "mama tnggal dlu yah syang.. "
rasti hanya mengangguk. mama meninggalkannya.
rasti kembali menitikkan air matanya. "gak ada yang ngerti.. gmna bsa gue bresin brang klo hti gue kyak gni.. gue benci smuanya.!!!" tangisnya makin keras. hatinya sesak sekali. dia sangat syang pada bima. dia gak bisa ngelupain cwok yg sdh lama bertahta d hatinya.
"gue gak bisa bi.. gue msih syang sm lo.. bi.. bntu gue.. gue btuh lo.. bimaa!!!!" tangisnya tak berhenti.
tiba-tiba sosok Lia, sahabatnya msuk dlam kmarx. Rasti langsung memeluknya. menangis dlam pelukan shabatnya, stidakx bsa melegakan hatinya.
"gue msih syang sm bima, li.."
"gue tw ras. tp lo mw ap? sbntar lg lo akn brangkat k bali n tnggal dsna.."
nOvel bEst SelleR
Minggu, 05 Februari 2012
Sabtu, 29 Oktober 2011
1
04 oktober 2011
14.30
Mondi's Cafe
Rasti terduduk di kursi meja kafe paling pojok, dengan kepala terus menunduk. Bima yang duduk di hadapannya hanya diam dan terus berusaha tenang melihat keanehan tingkah kekasihnya itu.
"Ras.." Bima mencoba menegur. matanya terus memandang Rasti. "Kamu yang ngajak ketemuan, tapi malah kamu yang--"
"Kita putus!"
Bruuk. Seandainya Bima punya riwayat penyakit jantung, mungkin sekarang dia sudah ambruk tak berdaya karena penyakitnya kumat. Bima diam. tak berkomentar. matanya hanya tetap menatap Rasti yang masih tertunduk, walau lebih tajam. tajam dengan sedikit berkaca.
Rasti tetap menunduk. walau kata-katanya sudah dia lontarkan pada Bima. dia tak bisa menatap Bima, dia takut melihat mata Bima, dia takut melihat raut kesedihan milik cowok yang sangat disayanginya, takut kalau ia sampai menarik kata-katanya karena melihat mata Bima yang tajam dengan penuh sayang padanya.
"aku mau hubungan kita berakhir sampai disini, dan aku harap kamu tidak mencariku apalagi menemuiku.." Rasti tertegun. tega sekali dirinya berkata seperti itu di depan orang yang sangat menyayanginya, dan sangat dia sayangi. Rasti memperbaiki nafasnya. berusaha mengaturnya sebaik mungkin, Bima tidak boleh tahu, kalo saat ini dirinya juga sesak tak berdaya. "aku serius!! kita selesai sampai disini.." Rasti kembali menarik nafas. Rasti berdiri dari duduknya. dia harus pergi sekarang, sebelum air matanya benar-benar mengalir, dan Bima tidak boleh lihat itu, dia harus tetap terlihat tegar, agar Bima akan benar-benar melupakannya, membencinya kalau perlu. "selamat tinggal, Bi.."
Bima hanya diam. matanya masih menatap tajam ke arah tempat duduk Rasti, dia tetap dia, walau Rasti saat ini benar-benar sudah pergi dari hadapannya. melihat Rasti berbalik kepadanya pun, dia tak lihat. Bima masih shock, kata-kata tadi itu serius, Rasti tak bercanda seperti yang sering dilakukannya di hari ulang tahunnya yang sekedar mengerjainya..
sedikitpun waktu tidak kamu kasi ke aku, Ras, untuk bertanya, mengapa.. tiba-tiba??
-----
to be continued
14.30
Mondi's Cafe
Rasti terduduk di kursi meja kafe paling pojok, dengan kepala terus menunduk. Bima yang duduk di hadapannya hanya diam dan terus berusaha tenang melihat keanehan tingkah kekasihnya itu.
"Ras.." Bima mencoba menegur. matanya terus memandang Rasti. "Kamu yang ngajak ketemuan, tapi malah kamu yang--"
"Kita putus!"
Bruuk. Seandainya Bima punya riwayat penyakit jantung, mungkin sekarang dia sudah ambruk tak berdaya karena penyakitnya kumat. Bima diam. tak berkomentar. matanya hanya tetap menatap Rasti yang masih tertunduk, walau lebih tajam. tajam dengan sedikit berkaca.
Rasti tetap menunduk. walau kata-katanya sudah dia lontarkan pada Bima. dia tak bisa menatap Bima, dia takut melihat mata Bima, dia takut melihat raut kesedihan milik cowok yang sangat disayanginya, takut kalau ia sampai menarik kata-katanya karena melihat mata Bima yang tajam dengan penuh sayang padanya.
"aku mau hubungan kita berakhir sampai disini, dan aku harap kamu tidak mencariku apalagi menemuiku.." Rasti tertegun. tega sekali dirinya berkata seperti itu di depan orang yang sangat menyayanginya, dan sangat dia sayangi. Rasti memperbaiki nafasnya. berusaha mengaturnya sebaik mungkin, Bima tidak boleh tahu, kalo saat ini dirinya juga sesak tak berdaya. "aku serius!! kita selesai sampai disini.." Rasti kembali menarik nafas. Rasti berdiri dari duduknya. dia harus pergi sekarang, sebelum air matanya benar-benar mengalir, dan Bima tidak boleh lihat itu, dia harus tetap terlihat tegar, agar Bima akan benar-benar melupakannya, membencinya kalau perlu. "selamat tinggal, Bi.."
Bima hanya diam. matanya masih menatap tajam ke arah tempat duduk Rasti, dia tetap dia, walau Rasti saat ini benar-benar sudah pergi dari hadapannya. melihat Rasti berbalik kepadanya pun, dia tak lihat. Bima masih shock, kata-kata tadi itu serius, Rasti tak bercanda seperti yang sering dilakukannya di hari ulang tahunnya yang sekedar mengerjainya..
sedikitpun waktu tidak kamu kasi ke aku, Ras, untuk bertanya, mengapa.. tiba-tiba??
-----
to be continued
"Seandainya aku ikut kamu waktu itu, mungkin sekarang kita sudah menikah, bahkan punya anak.."
"Jodoh sudah ada di tangan Tuhan. Kalau kita tidak bersatu, itu artinya kita belum jodoh.."
"belum jodoh?!! kurasa kita memang benar-benar tidak berjodoh!!"
"kita masih punya harapan bersama.."
"masih?! hei.. kamu kesini bersama calon istrimu dan sebentar lagi kalian akan menikah, menjadi sepasang suami istri sampai mati, dan sekarang kamu bilang ke aku, kalo kita masih punya harapan bersama?! bulshit!! kamu mau kasi harapan aku sampai kapan? sampai dia meninggal atau kalian cerai?? atau kamu ingin mendua??!! brengsek lo!!"
"kita masih punya surga.. kita masih punya harapan untuk bersama disana!!"
Tersenyum. "kata-katamu menyenangkan hatiku tapi sekaligus menyakiti hati calon istrimu.. aku juga perempuan.. hati aku dengan dia gak jauh beda.. hati perempuan mana yang tidak sakit mendengarkan kata-katamu yang seperti tidak mengharapkannya.."
to be continued
"Jodoh sudah ada di tangan Tuhan. Kalau kita tidak bersatu, itu artinya kita belum jodoh.."
"belum jodoh?!! kurasa kita memang benar-benar tidak berjodoh!!"
"kita masih punya harapan bersama.."
"masih?! hei.. kamu kesini bersama calon istrimu dan sebentar lagi kalian akan menikah, menjadi sepasang suami istri sampai mati, dan sekarang kamu bilang ke aku, kalo kita masih punya harapan bersama?! bulshit!! kamu mau kasi harapan aku sampai kapan? sampai dia meninggal atau kalian cerai?? atau kamu ingin mendua??!! brengsek lo!!"
"kita masih punya surga.. kita masih punya harapan untuk bersama disana!!"
Tersenyum. "kata-katamu menyenangkan hatiku tapi sekaligus menyakiti hati calon istrimu.. aku juga perempuan.. hati aku dengan dia gak jauh beda.. hati perempuan mana yang tidak sakit mendengarkan kata-katamu yang seperti tidak mengharapkannya.."
to be continued
Minggu, 07 Agustus 2011
Prolog
Rasti Prisilia Smack. Itu namaku.
Bima Widiyanto, nama seseorang yang telah 5 tahun berstatus pacaran denganku. Sempat berstatus calon suamiku, tapi karena ayahku bertekad "tidak akan" menikahkanku dengan laki2 yang berbeda agama denganku, terpaksa status itu kembali menjadi pacaran. Aku sayang dia. SANGAT!!, tapi lebih sayang pada ayahku walaupun dia adalah seseorang yang sangat keras, sangat kaku pada agama yang dianutnya. Katolik.
Entah apa yang dilihat Bima pada diriku. Aku penganut kristen yang taat. Dia juga, penganut islam yang taat. Tapi, mungkin itulah jalan hidupku, terus berjalan tanpa melihat status beda agama kami.
"Beri aku 10 alasan, kalau suatu saat nanti, tiba-tiba kamu mau mutusin aku" mungkin kalimat itu yang menjadi salah satu alasan yang buat kita renggang sampai saat ini. Yah.. walaupun sebenarnya kita selalu putus nyambung putus nyambung (*BBB kalee.. :D).
Tante Dea. Nama mamanya Bima. Ibunya berjilbab. Baik sekali. Dia tahu kalau aku kristen, tapi dia juga tahu kalau aku sebenarnya dari dulu tertarik dengan islam.
Jujur, sejak aku bersama Bima, hidupku lebih baik, aku biasa belajar sholat, mengaji dan puasa bersama tante Dea, "tanpa diketahui Orang Tuaku". Ayahku bisa murka kalau sampai tahu kalau aku punya hati pada Islam. Pernah aku sharing dengan mamaku masalah islam, masalah ketertarikanku pada islam, "agama yang unik dan tenang" itu kataku. Tapi, mama hanya diam. Terbesit dalam hati dan pikiranku, mama juga berperasaan seperti itu.
Ayahku sangat benci pada Bima. Kenapa? Karena Islam. Terkadang Ayah dan Mamaku bertengkar karena aku dan Bima. Mama selalu membelaku, karena dia suka pada Bima. Sangat beda dengan Ayahku yang entah kenapa, sedikitpun tak punya hati pada islam.
to be continued
Bima Widiyanto, nama seseorang yang telah 5 tahun berstatus pacaran denganku. Sempat berstatus calon suamiku, tapi karena ayahku bertekad "tidak akan" menikahkanku dengan laki2 yang berbeda agama denganku, terpaksa status itu kembali menjadi pacaran. Aku sayang dia. SANGAT!!, tapi lebih sayang pada ayahku walaupun dia adalah seseorang yang sangat keras, sangat kaku pada agama yang dianutnya. Katolik.
Entah apa yang dilihat Bima pada diriku. Aku penganut kristen yang taat. Dia juga, penganut islam yang taat. Tapi, mungkin itulah jalan hidupku, terus berjalan tanpa melihat status beda agama kami.
"Beri aku 10 alasan, kalau suatu saat nanti, tiba-tiba kamu mau mutusin aku" mungkin kalimat itu yang menjadi salah satu alasan yang buat kita renggang sampai saat ini. Yah.. walaupun sebenarnya kita selalu putus nyambung putus nyambung (*BBB kalee.. :D).
Tante Dea. Nama mamanya Bima. Ibunya berjilbab. Baik sekali. Dia tahu kalau aku kristen, tapi dia juga tahu kalau aku sebenarnya dari dulu tertarik dengan islam.
Jujur, sejak aku bersama Bima, hidupku lebih baik, aku biasa belajar sholat, mengaji dan puasa bersama tante Dea, "tanpa diketahui Orang Tuaku". Ayahku bisa murka kalau sampai tahu kalau aku punya hati pada Islam. Pernah aku sharing dengan mamaku masalah islam, masalah ketertarikanku pada islam, "agama yang unik dan tenang" itu kataku. Tapi, mama hanya diam. Terbesit dalam hati dan pikiranku, mama juga berperasaan seperti itu.
Ayahku sangat benci pada Bima. Kenapa? Karena Islam. Terkadang Ayah dan Mamaku bertengkar karena aku dan Bima. Mama selalu membelaku, karena dia suka pada Bima. Sangat beda dengan Ayahku yang entah kenapa, sedikitpun tak punya hati pada islam.
to be continued
Langganan:
Postingan (Atom)